Keluarga
merupakan bagian terkecil yang mengorganisir setiap individu. Dalam keluarga
termasuk anak dan orangtua, masing-masing memiliki peranan, hak dan kewajiban
yang berbeda.
Orang
tua memiliki kewajiban dan tanggung jawab terhadap anak. Diantaranya memiliki
tugas mendidik, meliputi pola asuh, serta pendidikan yang baik. Kemudian
pembentukan karakter yang baik dan pembiasaan beribadah sesuai dengan agama
yang diyakini dalam keluarga tersebut.
Setiap
keluarga memiliki polas asuh yang berbeda-beda, hal ini dipengaruhi oleh
beberapa faktor. Yakni suku, budaya, tingkat pendidikan bahkan penghasilan
orangtua. Hal inilah yang membedakan perbedaan pola asuh antar generasi. Namun
pada umumnya perbedaan pola asuh dipengaruhi oleh tingkat pendidikan orangtua.
Semakin tinggi pendidikan orangtua maka pola asuh yang diterapkan akan semakin
sesuai dengan teori pendidikan pada umumnya,
Namun
dengan tingkat pendidikan orangtua yang semakin tinggi menyebabkan waktu yang
digunakan untuk berinteraksi antar orangtua dan anak berkurang. Hal ini tak
ayal, membuat banyak orangtua menyerahkan pengasuhan anak-anaknya pada baby
sitter atau asisten rumah tangga. Para orangtua lebih disibukkan dengan mencari
nafkah. Namun ada juga orangtua yang memiliki penghasilan terbatas juga sulit
untuk memiliki waktu luang pengasuhan bagi anak-anaknya. Karena bagaimanapun
juga orangtua tetap sibuk untuk mencukupi kebutuhan primer mereka. Sehingga
mengakibatkan waktu untuk berinteraksi, membimbing, memberikan perhatian,
mencurahkan kasihsayang terbatas.
Pada
saat pulang ke rumah orangtua sudah letih, kehabisan energi. jadi, hal ini akan
mempengaruhi pola asuh dan hasilnya. Karena pola asuh yang diterapkan orangtua
akan mempengaruhi pola pikir anak, perilaku, karakter dan keberhasilannya dalam
mengikuti pendidikan formal.
Misalnya
seorang anak yang dibesarkan dengan pola asuh kekerasan verbal atau fisik,
(dicubit, dihardik, dipukul, dijewer ketika melakukan kesalahan) maka dia akan
terbiasa dengan kekerasan itu, dan tidak menutup kemungkinan juga akan
melakukannya di sekolah. Sebaliknya anak yang tidak terbiasa mengalami
keekrasan verbal dan fisik maka dia tidak melakukan itu. Di mana kekerasan di
sekolah tidak dibenarkan bukan? Anak yang tidak mengalami kekerasan, cenderung
lebih tenang dapat berkonsentrasi belajar. Inilah yang mempengaruhi
keberhasilan anak. (prestasi akademik)
Seorang
anak yang dibiasakan dengan pola asuh disiplin mati, misalnya segala pekerjaan
baik di sekolah maupun diharus selesai tepat waktu, harus dilakukan tanpa
peduli anak mengalami kesusahan atau kendala. Hal ini menyebabkan anak merasa
tertekan. Berbeda dengan anak yang dibesarkan juga dengan disiplin, teratur
tetapi diarahkan, dimotifasi, dibimbing, dijelaskan. Misalnya anak tidak mau
mengerjakan PR, orangtua memberikan penjelasan, motifasi sehingga anak mau
mengerjakan PR. Bagaimanapun kesibukan orangtua, tetap harus tetap harus
menyediakan waktunya untuk berinteraksi dengan anak. Untuk mengetahui
perkembangan anak, memahami anak, mendampingi, menemani mengerjakan pekerjaan
rumah, menanyakan PR mengetahui bagaimana dia di sekolah, perkembangan mental
maupun kemampuan akademik anak.
Dampak
yang sangat besar daro pola asuh adalah karakter dan perilaku anak. Ada pepatah
yang mengatakan anak cerminan dari orangtuanya, buah jatuh tidak jauh dari
pohonnya. Hal ini sangat menggambarkan pola asuh yang diterapkan orangtua
terhadap karakter anak dan perilaku anak. Pada umumnya anak akan meniru apapun
yang dicontohkan oleh orangtuanya terlepas dari benar, salah, baik atau tidak
baik. Misalnya kebiasaan berbicara saat makan, pada saat makan orangtuanya
berbicara makan sambil berbicara. Tanpa sadar anak memaklumi dan menganggap itu
boleh. Contoh lain kebiasaan menggumpat, orangtua sering menggumpat didengar
dan ditiru anak. Hal ini merupakan sangat salah, setidaknya ada dua kesalahan
yang pertama ketika anak mencontoh menggumpat, orangtua salah karena memberkan
contoh yang salah kemudian anak melakukan dan orangtua menegur atau meluruskan.
Di sini orangtua tidak berperan sebagai uswatun hasanah atau teladan yang baik.
Dalam hal ini orangtua tidak berprilaku sebagai pengaruh, pembimbing tetapi
hanya sebagai pengawas. Hal ini menimbulkan dualisme pada pemikiran anak,
kenapa orangtua bisa melakukan tetapi kenapa saya tidak, anak akan kebingungan
sehingga ia sulit membedakan mana yang benar dan yang salah. Malahan anakm
berpikir ketika besar anak boleh melakukan kesalah itu. Ini malah berbahaya,
karena anak berpikir ketika dia besar dia boleh melakukan itu.
Sebaliknya
anak yang dibiasakan dengan karakter baik, misal menyapa oranglain ketika
berjalan (mengucapkan permisi) ketika berlalu lalang di depan orang lain.
Orangtua selalu mencontohkan ini maka anak akan mengikutinya, ketika anak tidak
melakukan itu maka orangtua menegur dengan bijak. Cara menegur orangtua kepada
anak berbuat salah, juga mempengaruhi. Ketika anak ditegur di depan orang lain,
dengan suara yang keras anak akan merasa malu, minder. Berbeda ketika anak
melakukan kesalahan orangtua menegur dengan baik, dihargai, maka anak bisa
tumbuh dengan menghargai oranglain, self conidence.
Berikutnya dia akan
memperlakukan oranglain seperti dia diperlakukan, itu hukum alam dengan
sendirinya. Hanya saja menanamkana kebiasaan baik itu lama dan perlu sabar,
contoh yang tidak putus-putus. Hal ini harus disadari orangtua sebagian dari
konsekwensi peran sebagai orangtua, mau tidak mau kita sebagai orangtua harus
memantapkan peran kita yang multipungsi ini. Demi keberhasilan anak kita
sendiri, memiliki karakter yang baik dan kemampuan akademik yang bagus.
Oleh Haida (Guru Pendidikan Agama Islam)